Tertolak Karena Rupa

“Setiap manusia yang lahir ke bumi tidak bisa memilih dilahirkan dari Rahim Ibu yang mana, latar belakang keluarga yang seperti apa dan bentuk fisik yang bagaimana”. Kalimat sebelumnya santer terdengar dalam ucapan seseorang atau quote dalam Instagram. 

Banyaknya manusia yang mengaminkan kalimat diatas, tidak sedikit dalam praktiknya manusia pura-pura lupa karena buta pada harta, tahta dan Raisa. Berdasarkan tiga hal yakni harta, tahta dan Raisa, maaf maksud saya bentuk fisik yang cakupannya juga cukup luas ini, point terakhir menjadi hal menarik untuk dibahas, bahkan setiap hari saya melihat tulisan di media sosial twitter tentang “Insecure dan Self Love”.

Bagaimana tidak menarik, pembahasan seorang wanita yang insecure dengan bentuk fisik yang gendut dan pendek, wajah yang tidak simetris, hidung pesek, belum lagi penampilan wajah yang jerawatan, kulit hitam dan burik, menarik minat netizen untuk memberikan retweet dan like hingga mencapai angka ribuan, rasa tidak hanya satu atau dua orang yang mengalami hal serupa, tetapi banyak. Bahkan yang lebih menarik perhatian saya adalah postingan Tara Basro pada awal Maret 2020 yang cukup mengundang komentar pro kontra mengenai bentuk tubuhnya yang diunggah dalam media sosial Instagram. 

Masyarakat kontra tentang bagaimana Tara Basro sangat mengekspos bentuk tubuh dan pro dengan dia yang mencintai dirinya sendiri, maka hal ini disebut dengan self love, berbanding terbalik dengan perasaan insecure yang selalu memenuhi perasaan wanita hingga menutup rasa percaya diri. 

Bentuk fisik ternyata masih menjadi topik hangat masa kini, hingga muncul kata popular yang berasal dari bahasa asing, yang sudah saya sebutkan sebanyak 3 kali sebelumnya. Menurut Google yang saya buka, Insecure adalah istilah untuk menggambarkan perasaan tidak aman yang membuat seseorang merasa gelisah, takut, malu, hingga tidak percaya diri. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang menjadi insecure, mulai yang berasal dari luar atau dari dalam diri sendiri. Tapi dari sederet rasa cemas dan tidak percaya diri, tingkat tertinggi sepertinya jatuh pada bentuk fisik. 

Menurut riset yang dilakukan oleh brand ternama yakni “Dove” The Dove Global Beauty and Confidence Report kepada para perempuan berusia 10 hingga 60 tahun di 13 negara dengan total lebih dari 10.500 responden pada 2016 lalu. Hasil riset tersebut cukup beragam, namun yang cukup memprihatinkan adalah di Australia. Survei tersebut melaporkan bahwa sekitar 89% perempuan Australia masih sangat tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya. Mereka bahkan rela membatalkan wawancara kerja atau acara penting lainnya karena bentuk tubuh dan penampilan mereka. 

Belum lagi tekanan dari iklan TV dengan standar kecantikan yang tidak masuk akal, walaupun sekarang model iklan sudah menampilkan wanita berkulit coklat dengan beberapa tampilan nyentrik, dengan menyuarakan “Keep being you, just love your self”. Apalagi sekarang media sosial sudah ramai dan menduduki posisi atas dengan pengguna yang memuja kesempurnaan, dengan bermodal wajah cantik, postingan imut nan menggemaskan, outfit kece dan kendaraan mahal sukses mengundang followers dan endorsement produk. 

Karena saya wanita, topik akan diperkecil untuk fokus pada permasalahan bentuk fisik wanita. Cantik, tinggi, putih, hidung mancung, rambut warna-warni bagai gulali dan pipi cabi. Bukan, saya bukan sedang menjabarkan diri sendiri, saya hanya menjabarkan selera masyarakat Indonesia. Bukan tanpa alasan dan hanya opini pribadi saja, ternyata wanita dengan kriteria diatas jauh lebih memiliki tempat dalam masyarakat. 

Otakmu yang terkadang tak berisi, sikapmu yang kadang tak teradab, kepribadianmu yang terkadang seperti tidak berpendidikan menjadi point nomor kesekian untuk bisa diterima masyarakat asalkan “Kamu cantik”. 

Sampai akhirnya perasaan insecure itu juga datang kepada saya, yang bahkan dari dulu tidak pernah memikirkan tentang apa dan bagaimana orang memandang saya. Dalam sebuah website pencarian jodoh, saya mendaftarkan nama, mencoba memberanikan diri menghentaskan kesendirian dengan jalan yang halal. Padahal gadis yang sudah menyandang status jomblo sejak janin ini bertemu dengan pria saja takut, jarang menatap mata dan mengurangi komunikasi tidak penting. Sekarang mencoba mengambil langkah penting dalam hidup. Untuk menjadi dewasa ternyata ada perasaan dari wanita yang ingin memiliki pasangan, dilindungi dan disayang. Bukan karena kasih sayang dan perlindungan ayah berkurang, tapi ada perasaan dimana ingin lebih dispesialkan dan saling menspesialkan, ingin punya generasi yang menjadi mujahid dan mujahidah dalam dakwah Islam dan yang lebih penting menjauhkan diri dari maksiat. 

Ternyata untuk mengambil keputusan berat ini, harus menanggung kekecewaan juga. Mari saya ceritakan dari awal. 

PENDAFTARAN 
Bak sebuah pendaftaran sekolah, kita dibimbing untuk mendaftarakan email dan password yang sudah kita miliki. Setelah mengklik tombol daftar dan mengisi email dan password, maka akan muncul pemberitahuan masuk ke email yang kita daftarkan untuk mengkonfirmasi ulang, bahwa itu adalah email milik kita dan akun tersebut asli. Setelah itu masuk kepada bagian pengisian formulir. 

ISI FORMULIR 
Isi semua bagian mulai dari profil, foto, fisik, diri, pendidikan, pengalaman, ibadah, keluarga, harapan persiapan, kriteria fisik, kriteria non fisik, isilah secara jujur. 
 
Maka pencarian jodoh pun mulai dilakukan. 
 
Saya memiliki akun ini sudah lebih dari 1 tahun, dengan masa 2 kali menghapus akun karena hopeless jodohnya tak kunjung datang. Dalam website tersebut, kita bisa saling bertanya satu sama lain, mencoba untuk memahami dan bertukar pendapat dengan pembatasan 11 obrolan tanya jawab. Aplikasi ini memberikan dua pilihan, kita bisa mengizinkan atau tidak lawan jenis melihat foto. Untuk menjaga pandangan dan murni untuk ta’aruf (perkenalan) saya tidak mengizinkan untuk memperlihatkan foto saya. 
 
Sakit hati pun dimulai saat saya sudah merasa cocok dengan salah satu ikhwan, kami memutuskan bertukar foto. Ada yang menolak baik-baik lewat mahrom saya dan ada yang langsung memutuskan untuk tidak berta’aruf lagi, padahal saat itu sang ikhwan berkata ingin sholat isikhoroh terlebih dahulu. 

Dari sekian banyaknya pengalaman saya pada aplikasi ini, saya akan ceritakan dua pengalaman yang cukup membuat saya ingin menghapus akun lagi, tapi karena dorongan semangat teman-teman kantor saya. Saya mengurungkan niat tersebut. 

Pertama, saya kenal pria ini berasal dari Medan, tinggal dan kerja di Aceh. Secara finansial dan pandangan agama saya merasa cukup cocok, sampai akhirnya dia meminta untuk berkomunikasi dengan mahrom saya, karena keterbatasan komunikasi dalam aplikasi. Saya memberikan nomor telepon adik saya, karena saat itu sudah saatnya bertukar foto, karena jauh kami memutuskan untuk bertukar foto saja tidak nadzhor (melihat) secara langsung. Setelah dia berbincang sedikit dengan adik saya, menanyakan tentang kepribadian dan bagaimana saya dalam kehidupan sehari-hari, dia meminta mengirimkan foto. Saya pun mengirimkan foto tanpa aplikasi edit B612 atau menggunakan filter Instagram, saya tidak mau menghancurkan ekspektasi orang lain dengan rupa saya. Setelah mengirimkan foto, dia meminta waktu dua hari untuk berdiskusi dengan orang tuanya. 

Dua hari berlalu, hari ketiga saya menyuruh adik saya melakukan obrolan terlebih dahulu dalam aplikasi WhatsApp, jujur saya tidak suka digantung, karena dia memang meminta waktu 2 hari. Adik saya mengabari dengan mengirimkan tangkapan layar percakapan WhatsApp ikhwan tersebut. Kesimpulannya adalah orang tuanya tidak menyetujui, entah tidak setuju dengan saya dan latar belakang saya atau memang itu hanya keputusannya sendiri (Haha, saya jadi berprasangka buruk). Saya mencoba menegarkan hati, baiklah jika orang tuanya tidak setuju dan ada alasan lain yang tidak bisa dia katakan. Saya meminta adik saya mengirimkan sebuah kalimat, “Tidak apa-apa, semoga antum mendapatkan jodoh yang lebih baik”. Dia mengucapkan, “Terima Kasih”
Saya menceritakan ini kepada teman kantor, mereka berkata “Belum jodoh ky”. 

Kasus kedua, hampir sama dengan ending yang sama pula. Ikhwan ini meminta untuk nadzhor secara langsung, bertemu di rumah atau ditempat lain dengan mahrom saya, tapi saya menolak. Saya meminta untuk bertukar foto terlebih dahulu, supaya tidak membuang waktunya. Dia mengirimkan akun instagramnya dan meminta saya mengirimkan foto lewat direct message. Tidak banyak komunikasi, hanya sekedar salam dan saya mengirimkan foto, saya juga meminta dia mengirimkan foto. Dia meminta waktu untuk Istikhoroh (sholat memohon petunjuk) beberapa hari. Mungkin dalam istikhorohnya tidak ada saya didalamnya, hahaha. 
 
Membuat hati saya cukup tersinggung adalah permintaannya untuk Istikhoroh, menjadi sebuah alasan klise. Setelah mengirimkan foto tersebut saya tidak melihat website pencarian jodoh itu, karena pasti dia akan mengabari lewat direct message Instagram. Dua hari berikutnya saya membuka website, ternyata saya langsung masuk pada profil saya sendiri, bukan halaman ta’aruf. Ternyata dia sudah terlebih dahulu membatalkan ta’aruf. Saya check status pembatalan, dia bahkan membatalkan tepat pada hari saya mengirimkan foto. Entah Istikhoroh apa yang dia lakukan secepat itu, hanya dia dan Allah yang tahu. Saya menghapus percakapan kami di Instagram, padahal sebelumnya saya ingin menanyakan mengapa dia membatalkan ta’aruf, padahal sebelumnya ingin sholat terlebih dahulu. Tapi saya urungkan dan move on. 

Beberapa hari berikutnya yang tidak saya hitung lagi, dia memberi kabar bahwa dia sudah istikhoroh dan merasa belum cocok. Dalam hati saya, “Antumkan sudah membatalkan pada hari yang sama di website”, tapi untuk apa mendengki, saya balas dengan menegarkan hati “Tidak apa-apa, semoga antum segera mendapatkan jodoh”. 

Dua pengalaman yang cukup membekas, membawa saya pada kesimpulan rupa jadi masalah beberapa orang menolak saya, hingga muncul rasa kecewa pada diri sendiri, “Seburuk itu ya saya?”. Teman kantor yang saya panggil kakak ini langsung menasehati dengan kalimat yang tak kalah menenangkan hati saya. 
“Ky, mereka itu memang belum jodohmu. Lebih baik ditolak dari awal, daripada sudah terlanjur dan dibelakang hari ternyata ada hal besar yang Tuhan kasih. Misal, kita nggak tau mungkin dia selingkuh atau ternyata dia memang gak baik. Pasti setiap kejadian ada maksudnya. Bukan karena kau jelek, enggak kau nggak jelek ky. Bayangkan, kau sekolah dan berpendidikan, dibesarkan dari keluarga baik-baik, bukan perempuan liar, bahkan kau mandiri dengan bekerja. Jadi harus diingat, dia memang bukan yang terbaik. Kalau memang laki-laki itu bagus agamanya, dia nggak akan lihat kita dari rupa”. 

Setelah kejadian yang cukup membuat saya sedih dan berujung insecure, saya memutuskan untuk tetap menggunakan aplikasi tersebut dan mengizinkan ikhwan tersebut untuk melihat foto saya terlebih dahulu. Konon katanya, “Jika kamu sudah mengetahui bagaimana ibadah seseorang, lalu melihat fotonya dan kamu tidak tertarik karena hal itu, maka kamu sudah menolak keduanya, yakni agama dan dirinya”. saya menampilkan foto dari jarak jauh, cukup untuk seseorang bisa melihat wajah saya. Menerima penolakan karena rupa ternyata cukup menyedihkan, jadi lebih baik ditolak diawal saja, sebelum kami berbincang banyak tentang masing-masing dari kami, pikir saya. 

Bagaimana perasaan saya sekarang?. Saya jauh lebih baik, saya berteman dengan orang Italia yang menyadarkan saya tentang menghargai diri saya sendiri. Saya juga mendengar ceramah Ustad Khalid Basalamah yang mengatakan, “Allah akan mengirimkan orang yang mencintai kekurangan kamu. Hidung yang pesek, Allah kirimkan dia yang justru mencintai kamu karena hal tersebut" dan kekurangan lainnya yang menurut manusia menjadi penurunan standar dirinya sendiri. 

Kembali pada kalimat pembuka tulisan ini, saya tidak bisa memilih orang tua dan dari gen apa saya dilahirkan. Ayah saya memiliki hidung yang besar dan Allah menetapkan itu terhadap saya, jadi sebagai ciptaanNya saya seharusnya fokus pada hal yang bisa dirubah, yakni Akhlak, Adab dan Ibadah saya sehari-hari. Karena rupa akan habis dimakan zaman dan tanah, bukankah kita hanya ruh yang dititipkan jasad?. Jadi jika jasad kelak akan hancur, ruh akan abadi dalam sisi Sang Khaliq.

 أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ 
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564). 

Terakhir kalimat bijak dari Tara Basro, “Andaikan kita lebih terbiasa untuk melihat hal yang baik dan positif, bersyukur dengan apa yang kita miliki dan make the best out of itu daripada fokus dengan apa yang kita miliki. Setelah perjalanan yang panjang gue bisa bilang kalau gue cinta sama tubuh gue dan gue bangga akan itu, let yourself bloom”.

You Might Also Like

0 Comments