Tertusuk Angin Laut di Pulau Pandang Selat Malaka

Liburan di kota kelihatan sudah biasa, bagaimana kalau mulai menjelajahi pulau?. Tidak usah jauh-jauh ke Pulau Dewata Bali, kita sambangi saja Pulau Pandang. Pulau Pandang adalah sebuah pulau kecil di Selat Malaka, lepas pantai Sumatera, sekitar 47 km dari Tanjung Balai dan 10 km dari selatan Pulau Salahnama. Pulau ini masuk dalam wilayah Indonesia dan memiliki panjang sekitar 500 meter dan lebar 250 meter. Pulau ini juga langsung berhadapan ke negara jiran tetangga, yakni Malaysia.

Saya pergi pada bulan September 2020, selama 2 hari perjalanan. Mulai dari tanggal 13-14 September dengan menggunakan jasa travel milik adik junior saat SMA. Biaya untuk kepergian ke Pulau Pandang adalah Rp 260.000,-. Sebenarnya saya menyambangi 2 Pulau yakni Pandang dan Salah Nama, tapi tulisannya akan sangat panjang jika membahas 2 pulau, jadi kali ini akan saya fokuskan saja tentang Pulau Pandang terlebih dahulu.

Persiapan Pra Bepergian

Saya tidak menyiapkan banyak barang, tidak seperti saat saya pergi ke Gunung Sibayak http://www.rizkychairani.com/2021/02/tercekik-dingin-di-gunung-sibayak.html, yang saya bawa hanya baju ganti setelah mandi di pantai, pakaian dalam, air minum, kacamata hitam, dan sudah pasti snack untuk selingan perut agar terisi selalu, hahaha.

Hari Kepergian

Kami pergi dengan formasi 20 orang, bersama tour guide dengan menaiki mini bus. Titik kumpul berada didepan Indomaret MAN 1 Medan pada pukul 20.00 WIB. Satu persatu dari kami berdatangan untuk berkumpul dan tak lupa saya dan Tina mengisi perut dengan semangkok Mie Ayam favorit kami disebelah Mesjid At-Tawabin. Sebenarnya saya sudah makan malam, tapi takut akan kelaparan tengah malam dan akan sulit mencari makanan.

Pukul 23.00 WIB bus mini kampret baru datang, diiringi dengan drama pertengkaran oleh tour guide dan supir. Sudah sebal busnya datang lama, pakai drama pertengkaran pula, membuat kepala saya mau pecah. Bisa tidak kita pergi dengan damai?.

Alhamdulillah, pertempuran ludah yang sengit akhirnya selesai dan perjalanan dimulai. Perjalanan malam membuat saya yang duduk paling belakang tertidur pulas, walaupun kepala dihantam dinding mobil, rasanya tidak menghentikan perjuangan saya untuk tetap tidur.

Kurang lebih pukul 03.00 WIB kami sampai di suatu daerah, yang saya yakini itu sudah jauh sekali dari Medan, bahkan saya sendiri tidak tahu itu ada dimana, sangat sepi dan sekitarannya rumah-rumah penduduk. Katanya, tujuan kami berhenti disana untuk menaiki kapal kecil menuju Pulau Pandang. Tak seberapa lama kami dihantam hujan sederas-derasnya, yang membuat kami tidak bisa naik kapal karena air sungainya justru masih surut dan untuk menghindari kemungkinan kami semua terjebak ditengah-tengah sungai, perjalanan justru dilanjutkan ke Pelabuhan Tanjung Tiram dan yang mengikuti serta menemani kapal nelayan hanya tour guide dan beberapa orang laki-laki.

Azan subuh berkumandang, saat kami menginjakkan kaki di Pelabuhan Tanjung Tiram. Kami memilih bercumbu dengan Sang Rabb, sambil berdoa perjalanan kami dimudahkan hingga bertemu dengan Pulau Pandang yang bisa kami nikmati dengan nyaman. Setelah sholat dengan harap-harap cemas, kami ingin melihat kapal kami ada di tepian pelabuhan, sayangnya hanya kapal-kapal nelayan pengangkut ikan atau justru kapal sewaan milik travel lain yang kami lihat.

Suasana pelabuhan sebelum Subuh

Kenyataan yang tidak kami harapkan benar terjadi, kapal kami terjebak diantara tumpukan pasir yang menggunung, menghambat perjalanan untuk temu yang tak kunjung bertemu tamu. Lewat ponsel pintar, kami melihat bapak pemilik kapal, tour guide dan anak laki-laki lainnya mendorong kapal, tampak lutut mereka tertutup pasir yang dalam. Kami benar-benar frustasi, saya dan Tina memutuskan makan pagi dengan mie gomak dari penjual pinggir jalan di pasar tepat di pelabuhan. Sebenarnya saya sedikit tidak nyaman dan aman, karena membeli makanan di pasar. Jujur saja, ibu saya selalu melarang untuk membeli makanan di pasar karena kotor, banyak kuman. Tapi karena lapar, saya melahap dengan bismillah.

Rekan-rekan saya juga menyebar entah kemana, ada yang di kedai kopi, tetap di mini bus atau hanya memandang nanar kearah pelabuhan sambil ditemani rintik hujan yang tidak berhenti sejak Subuh. Selesai makan mie gomak seharga Rp 3.000,-, panggilan alam pun terjadi, mondar mandir dari mulai mesjid yang ditutup, sampai kedai kopi dengan WC yang langsung jatuh ke air pelabuhan membuat saya takut dan ingin memasukkan kotoran ini kembali, sayangnya tidak bisa. 

Saya yang tanpa rasa malu, menyambangi kedai kopi satu per satu, akhirnya menemukan kamar mandi yang sebenarnya baunya jika dibayangkan sekarang, pasti tercium (menulis sambil jijik), tapi mau bagaimana lagi, sisa isi perut ini harus dikeluarkan. Membayar Rp 2.000,- untuk kamar mandi dengan sedikit penolakan dari abang pemilik kedai, walaupun berakhir dengan ucapan terimakasih, kami melanjutkan perjalanan melewati pelabuhan lagi dan berharap kapal sudah tiba. Belum juga ternyata……

Menunggu kepastian

Pukul 08.30 WIB, akhirnya kapal yang dinantikan datang, namun dari kejauhan saya tidak melihat ada pelampung yang banyak, hanya 2-3 pelampung. Saat naik ke kapal, teman saya Mahda terpeleset membuat kakinya bengkang dan tidak bisa berjalan. Ya Allah, perjalanan kali ini banyak cobaan dan rintangannya. Kami mengamati setiap sudut pelabuhan hingga bertemu lautan biru dengan perbedaan air yang berbeda. Mulai dari coklat ke biru tua dan tampak dalam, sedalam hatinya yang tidak mampu saya telaah.

Seram dengan kondisi kapal yang hanya memiliki 3 pelampung, saya mencoba mendekatkan 1 pelampung dibawah kaki. Saya sangat ingin memakai pelampung itu, tapi malu karena tidak ada yang memakainya, “Bodohnya, padahal nyawa jauh lebih berharga daripada gengsi”

15 menit perjalanan pertama hanya diisi dengan rasa was-was dan pikiran "Jika kapal ini tenggelam atau terbalik ditengah perjalanan apa yang harus saya pegang untuk menyelamatkan diri, kalau kapal karam sudah pasti pelampung ini akan jadi rebutan, kalau saya tidak mendapatkannya apa yang harus saya lakukan?. Kalau memegang Tina yang bisa berenang, Tina juga pasti tidak akan bisa menahan badan saya dan bertahan lama”. Intinya semua pikiran buruk dalam otak saya sudah tercampur menjadi satu, layaknya nasi uduk ayah yang dia makan setiap hari Minggu.

Suasana di kapal

Saya langsung mengingat perkataan Mamak yang meminta untuk pasrah dan tetap tenang di kapal. Saya hanya mengingat itu dan syukurnya didepan saya banyak teman-teman yang membaca al-Qur’an dan ada juga yang tertidur, “Ya Allah bagaimana bisa mereka tertidur disituasi seperti ini, sedang saya yang mengantuk harus menahannya karena takut”.

Kurang lebih 1 jam 30 menit berlalu, kami sampai di Pulau Pandang dengan pemandangan air laut yang jernih, saya bisa melihat dasarnya yang dipenuhi terumbu karang, jika dipijak yakinlah kakimu akan koyak.

Turun dari kapal, mencari tempat yang teduh dan nyaman serta meletakkan tas, Bang Rey dan Bang Irfan langsung mengajak saya dan Tina untuk langsung mengeksplor Pulau Pandang, kami yang terlalu aktif langsung mengiyakan. Sayangnya Mahda tidak bisa berjalan dan memilih untuk tetap tinggal dan duduk manis diatas tikar.

Pandangan pertama kami jatuh pada mercusuar yang tinggi. Ternyata jalan yang harus ditempuh tidak datar, tapi harus melewati jalanan yang menanjak. Entah karena bersemangat atau kaki saya terbiasa karena di bulan sebelumnya melakukan pendakian, saya tidak merasakan lelah sedikit pun. Tangga demi tangga dilewati dan ya ini pemandangan yang diciptakan Allah untuk dinikmati, disyukuri dan dihayati.

Saya dan Tina tidak berani untuk naik keatas mercusuar paling atas, sebab butuh beberapa anak tangga lagi dan itu cukup curam, kami tidak mau mengambil resiko. 360 derajat sudut yang kami jamah untuk berfoto dan tentu saja kami tidak berhenti mengucap syukur dan kagum ada harta karun luar biasa di Selat Malaka.

Setelah puas berfoto, kami turun dengan kondisi Tina yang cukup hati-hati turun pada tangga yang berbelok, tapi dibalik kehatian-hatiannya dia terpaksa harus memegang bekas muntah orang lain yang tercecer pada gagang tangga dan terasa licin, haha...😂 saya juga terkena tapi sedikit.

Kami makan siang yang dimasak langsung ditempat oleh tim travel dengan asupan ikan bakar, nasi, kerupuk dan sambal kecap yang sungguh enak. Setelah itu kami berfoto lagi disudut indah dengan tumpukan batu-batu yang banyak, saya sebenarnya penasaran dari mana batu-batu ini berasal, tapi tidak ada yang bisa ditanya. Setelahnya, kami juga mandi di pantai dengan pelampung dan kacamata renang. "Maaf ya Mahda kami hanya membopohmu sampai pada pinggir pantai dan tidak bisa ikut dengan kami karena jalanan menanjak".



Setelah mandi di pantai dan mengeksplor pulau, kami mandi di kamar mandi untuk membersihkan tubuh dengan air yang justru terasa asin dan harus mengantri. Kondisi air disini saya rasa cukup sulit, apalagi tidak ada air tawar. Penginapan yang didalamnya ada kamar mandi juga tidak bisa dipakai, karena jorok dan horror sekali. Terlihat tidak ditinggali untuk beberapa waktu. Kamar mandi di Pulau ini untuk umum hanya ada 2, sisanya beberapa orang mengatakan ada disamping penginapan yang berada ditengah Pulau, tapi saya kehabisan air dan itu tadi, kamar mandinya seperti rumah hantu.

Di Pulau Pandang ini ada penginapan, tapi saya tidak tahu berapa biaya per malam, jika dilihat dari kondisinya saya melihat bekas sandal yang masuk sembarangan, kamar yang terbuka dan tidak ada penghuni. Saya merasa cukup aneh dengan kondisi penginapan dan tidak ada 1 pun petugas penginapan disana.

Terdapat penginapan lainnya disamping Pulau, tapi dilihat dari kondisinya penginapan itu sudah tidak diurus dan dihuni dalam waktu yang lama. Jadi lebih baik pulang hari atau untuk kamu yang mungkin suka camping dan membangun tenda, kamu bisa melakukannya, karena waktu saya dan rombongan datang ada tenda yang terpasang.

Pukul 16.00 kami semua bersiap-siap meninggalkan Pulau Pandang untuk menuju Pulau Salah Nama dan hanya menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam di Pulau Salah Nama karena hari mulai gelap. Menuju pinggir pelabuhan dengan kondisi langit gelap, kami menikmati sunset ditengah laut. Bisa dibayangkan bagaimana indahnya pemandangan saat itu. Semakin malam, angin malam semakin kencang, saya memutuskan menggunakan jaket.

Kepulangan 

Setelah sampai di pelabuhan kami langsung menuju Medan dan menjama' shalat Magrib pada jam Isya. Saya langsung memejamkan mata untuk tidur, agar tidak kekurangan jam tidur untuk esok hari, karena harus langsung bekerja. 

kurang lebih pukul 00.00 WIB kami sampai di Medan, Tina yang memutuskan untuk tidur di rumah saya menunggu jemputan ayah saya didepan Sekolah Budi Satrya. Kami tarik tiga (kata orang Medan), sesampai di rumah, kami berganti pakaian, Tina menunaikan 2 sholat dan tidak lupa saya membaluri seluruh tubuh dengan hot and cream untuk mengurangi lelah pada badan dan kaki.

Perjalanan 2 hari 1 malam itu awalnya baik-baik saja, sampai pada hari kedua setelah kepulangan, leher saya sakit, masuk angin terasa tidak biasa dan akhirnya harus berobat dan beristirahat di rumah. Nyatanya angin laut sangat kejam, karena sebelumnya saya tidak pernah merasakan masuk angin yang berpindah-pindah tempat separah itu, sejak terakhir kali saya masuk angin waktu awal kuliah dan harus dilarikan ke klinik dan disuntik jam 5 Subuh.

Tetapi, walaupun eksplorasi meninggalkan bekas sakit, saya tidak jera untuk melihat jauh lebih banyak dan jauh lebih indah ciptaan Allah. Intinya, saya sangat bahagia bisa melihat Pulau Pandang, walaupun memang kami tidak dilengkapi dengan perlengkapan snorkling, tapi Pulau Pandang yang dekat daripada Sabang dan biayanya lebih murah, bisa membayar rasa rindu saya pada laut biru di Sabang, sejak terakhir tahun 2018 saya menyambanginya. 

Total biaya: Rp 273.000. (Rp 260.000: dibayarkan kepada travel untuk biaya perjalanan +Rp 10.000 biaya perjalanan pihak travel kurang, +Rp 3.000 beli mie gomak).

Nantikan tulisan perjalanan seru lainnya pada blog ini. Selamat menikmati perjalanan lewat tulisan virtual. Cheers!




You Might Also Like

0 Comments