Random Writing | rizkychairani

  • Home
  • About
  • Portofolio
  • Youtube Channel

Liburan di kota kelihatan sudah biasa, bagaimana kalau mulai menjelajahi pulau?. Tidak usah jauh-jauh ke Pulau Dewata Bali, kita sambangi saja Pulau Pandang. Pulau Pandang adalah sebuah pulau kecil di Selat Malaka, lepas pantai Sumatera, sekitar 47 km dari Tanjung Balai dan 10 km dari selatan Pulau Salahnama. Pulau ini masuk dalam wilayah Indonesia dan memiliki panjang sekitar 500 meter dan lebar 250 meter. Pulau ini juga langsung berhadapan ke negara jiran tetangga, yakni Malaysia.

Saya pergi pada bulan September 2020, selama 2 hari perjalanan. Mulai dari tanggal 13-14 September dengan menggunakan jasa travel milik adik junior saat SMA. Biaya untuk kepergian ke Pulau Pandang adalah Rp 260.000,-. Sebenarnya saya menyambangi 2 Pulau yakni Pandang dan Salah Nama, tapi tulisannya akan sangat panjang jika membahas 2 pulau, jadi kali ini akan saya fokuskan saja tentang Pulau Pandang terlebih dahulu.

Persiapan Pra Bepergian

Saya tidak menyiapkan banyak barang, tidak seperti saat saya pergi ke Gunung Sibayak http://www.rizkychairani.com/2021/02/tercekik-dingin-di-gunung-sibayak.html, yang saya bawa hanya baju ganti setelah mandi di pantai, pakaian dalam, air minum, kacamata hitam, dan sudah pasti snack untuk selingan perut agar terisi selalu, hahaha.

Hari Kepergian

Kami pergi dengan formasi 20 orang, bersama tour guide dengan menaiki mini bus. Titik kumpul berada didepan Indomaret MAN 1 Medan pada pukul 20.00 WIB. Satu persatu dari kami berdatangan untuk berkumpul dan tak lupa saya dan Tina mengisi perut dengan semangkok Mie Ayam favorit kami disebelah Mesjid At-Tawabin. Sebenarnya saya sudah makan malam, tapi takut akan kelaparan tengah malam dan akan sulit mencari makanan.

Pukul 23.00 WIB bus mini kampret baru datang, diiringi dengan drama pertengkaran oleh tour guide dan supir. Sudah sebal busnya datang lama, pakai drama pertengkaran pula, membuat kepala saya mau pecah. Bisa tidak kita pergi dengan damai?.

Alhamdulillah, pertempuran ludah yang sengit akhirnya selesai dan perjalanan dimulai. Perjalanan malam membuat saya yang duduk paling belakang tertidur pulas, walaupun kepala dihantam dinding mobil, rasanya tidak menghentikan perjuangan saya untuk tetap tidur.

Kurang lebih pukul 03.00 WIB kami sampai di suatu daerah, yang saya yakini itu sudah jauh sekali dari Medan, bahkan saya sendiri tidak tahu itu ada dimana, sangat sepi dan sekitarannya rumah-rumah penduduk. Katanya, tujuan kami berhenti disana untuk menaiki kapal kecil menuju Pulau Pandang. Tak seberapa lama kami dihantam hujan sederas-derasnya, yang membuat kami tidak bisa naik kapal karena air sungainya justru masih surut dan untuk menghindari kemungkinan kami semua terjebak ditengah-tengah sungai, perjalanan justru dilanjutkan ke Pelabuhan Tanjung Tiram dan yang mengikuti serta menemani kapal nelayan hanya tour guide dan beberapa orang laki-laki.

Azan subuh berkumandang, saat kami menginjakkan kaki di Pelabuhan Tanjung Tiram. Kami memilih bercumbu dengan Sang Rabb, sambil berdoa perjalanan kami dimudahkan hingga bertemu dengan Pulau Pandang yang bisa kami nikmati dengan nyaman. Setelah sholat dengan harap-harap cemas, kami ingin melihat kapal kami ada di tepian pelabuhan, sayangnya hanya kapal-kapal nelayan pengangkut ikan atau justru kapal sewaan milik travel lain yang kami lihat.

Suasana pelabuhan sebelum Subuh

Kenyataan yang tidak kami harapkan benar terjadi, kapal kami terjebak diantara tumpukan pasir yang menggunung, menghambat perjalanan untuk temu yang tak kunjung bertemu tamu. Lewat ponsel pintar, kami melihat bapak pemilik kapal, tour guide dan anak laki-laki lainnya mendorong kapal, tampak lutut mereka tertutup pasir yang dalam. Kami benar-benar frustasi, saya dan Tina memutuskan makan pagi dengan mie gomak dari penjual pinggir jalan di pasar tepat di pelabuhan. Sebenarnya saya sedikit tidak nyaman dan aman, karena membeli makanan di pasar. Jujur saja, ibu saya selalu melarang untuk membeli makanan di pasar karena kotor, banyak kuman. Tapi karena lapar, saya melahap dengan bismillah.

Rekan-rekan saya juga menyebar entah kemana, ada yang di kedai kopi, tetap di mini bus atau hanya memandang nanar kearah pelabuhan sambil ditemani rintik hujan yang tidak berhenti sejak Subuh. Selesai makan mie gomak seharga Rp 3.000,-, panggilan alam pun terjadi, mondar mandir dari mulai mesjid yang ditutup, sampai kedai kopi dengan WC yang langsung jatuh ke air pelabuhan membuat saya takut dan ingin memasukkan kotoran ini kembali, sayangnya tidak bisa. 

Saya yang tanpa rasa malu, menyambangi kedai kopi satu per satu, akhirnya menemukan kamar mandi yang sebenarnya baunya jika dibayangkan sekarang, pasti tercium (menulis sambil jijik), tapi mau bagaimana lagi, sisa isi perut ini harus dikeluarkan. Membayar Rp 2.000,- untuk kamar mandi dengan sedikit penolakan dari abang pemilik kedai, walaupun berakhir dengan ucapan terimakasih, kami melanjutkan perjalanan melewati pelabuhan lagi dan berharap kapal sudah tiba. Belum juga ternyata……

Menunggu kepastian

Pukul 08.30 WIB, akhirnya kapal yang dinantikan datang, namun dari kejauhan saya tidak melihat ada pelampung yang banyak, hanya 2-3 pelampung. Saat naik ke kapal, teman saya Mahda terpeleset membuat kakinya bengkang dan tidak bisa berjalan. Ya Allah, perjalanan kali ini banyak cobaan dan rintangannya. Kami mengamati setiap sudut pelabuhan hingga bertemu lautan biru dengan perbedaan air yang berbeda. Mulai dari coklat ke biru tua dan tampak dalam, sedalam hatinya yang tidak mampu saya telaah.

Seram dengan kondisi kapal yang hanya memiliki 3 pelampung, saya mencoba mendekatkan 1 pelampung dibawah kaki. Saya sangat ingin memakai pelampung itu, tapi malu karena tidak ada yang memakainya, “Bodohnya, padahal nyawa jauh lebih berharga daripada gengsi”. 

15 menit perjalanan pertama hanya diisi dengan rasa was-was dan pikiran "Jika kapal ini tenggelam atau terbalik ditengah perjalanan apa yang harus saya pegang untuk menyelamatkan diri, kalau kapal karam sudah pasti pelampung ini akan jadi rebutan, kalau saya tidak mendapatkannya apa yang harus saya lakukan?. Kalau memegang Tina yang bisa berenang, Tina juga pasti tidak akan bisa menahan badan saya dan bertahan lama”. Intinya semua pikiran buruk dalam otak saya sudah tercampur menjadi satu, layaknya nasi uduk ayah yang dia makan setiap hari Minggu.

Suasana di kapal

Saya langsung mengingat perkataan Mamak yang meminta untuk pasrah dan tetap tenang di kapal. Saya hanya mengingat itu dan syukurnya didepan saya banyak teman-teman yang membaca al-Qur’an dan ada juga yang tertidur, “Ya Allah bagaimana bisa mereka tertidur disituasi seperti ini, sedang saya yang mengantuk harus menahannya karena takut”.

Kurang lebih 1 jam 30 menit berlalu, kami sampai di Pulau Pandang dengan pemandangan air laut yang jernih, saya bisa melihat dasarnya yang dipenuhi terumbu karang, jika dipijak yakinlah kakimu akan koyak.

Turun dari kapal, mencari tempat yang teduh dan nyaman serta meletakkan tas, Bang Rey dan Bang Irfan langsung mengajak saya dan Tina untuk langsung mengeksplor Pulau Pandang, kami yang terlalu aktif langsung mengiyakan. Sayangnya Mahda tidak bisa berjalan dan memilih untuk tetap tinggal dan duduk manis diatas tikar.

Pandangan pertama kami jatuh pada mercusuar yang tinggi. Ternyata jalan yang harus ditempuh tidak datar, tapi harus melewati jalanan yang menanjak. Entah karena bersemangat atau kaki saya terbiasa karena di bulan sebelumnya melakukan pendakian, saya tidak merasakan lelah sedikit pun. Tangga demi tangga dilewati dan ya ini pemandangan yang diciptakan Allah untuk dinikmati, disyukuri dan dihayati.

Saya dan Tina tidak berani untuk naik keatas mercusuar paling atas, sebab butuh beberapa anak tangga lagi dan itu cukup curam, kami tidak mau mengambil resiko. 360 derajat sudut yang kami jamah untuk berfoto dan tentu saja kami tidak berhenti mengucap syukur dan kagum ada harta karun luar biasa di Selat Malaka.

Setelah puas berfoto, kami turun dengan kondisi Tina yang cukup hati-hati turun pada tangga yang berbelok, tapi dibalik kehatian-hatiannya dia terpaksa harus memegang bekas muntah orang lain yang tercecer pada gagang tangga dan terasa licin, haha...😂 saya juga terkena tapi sedikit.

Kami makan siang yang dimasak langsung ditempat oleh tim travel dengan asupan ikan bakar, nasi, kerupuk dan sambal kecap yang sungguh enak. Setelah itu kami berfoto lagi disudut indah dengan tumpukan batu-batu yang banyak, saya sebenarnya penasaran dari mana batu-batu ini berasal, tapi tidak ada yang bisa ditanya. Setelahnya, kami juga mandi di pantai dengan pelampung dan kacamata renang. "Maaf ya Mahda kami hanya membopohmu sampai pada pinggir pantai dan tidak bisa ikut dengan kami karena jalanan menanjak".



Setelah mandi di pantai dan mengeksplor pulau, kami mandi di kamar mandi untuk membersihkan tubuh dengan air yang justru terasa asin dan harus mengantri. Kondisi air disini saya rasa cukup sulit, apalagi tidak ada air tawar. Penginapan yang didalamnya ada kamar mandi juga tidak bisa dipakai, karena jorok dan horror sekali. Terlihat tidak ditinggali untuk beberapa waktu. Kamar mandi di Pulau ini untuk umum hanya ada 2, sisanya beberapa orang mengatakan ada disamping penginapan yang berada ditengah Pulau, tapi saya kehabisan air dan itu tadi, kamar mandinya seperti rumah hantu.

Di Pulau Pandang ini ada penginapan, tapi saya tidak tahu berapa biaya per malam, jika dilihat dari kondisinya saya melihat bekas sandal yang masuk sembarangan, kamar yang terbuka dan tidak ada penghuni. Saya merasa cukup aneh dengan kondisi penginapan dan tidak ada 1 pun petugas penginapan disana.

Terdapat penginapan lainnya disamping Pulau, tapi dilihat dari kondisinya penginapan itu sudah tidak diurus dan dihuni dalam waktu yang lama. Jadi lebih baik pulang hari atau untuk kamu yang mungkin suka camping dan membangun tenda, kamu bisa melakukannya, karena waktu saya dan rombongan datang ada tenda yang terpasang.

Pukul 16.00 kami semua bersiap-siap meninggalkan Pulau Pandang untuk menuju Pulau Salah Nama dan hanya menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam di Pulau Salah Nama karena hari mulai gelap. Menuju pinggir pelabuhan dengan kondisi langit gelap, kami menikmati sunset ditengah laut. Bisa dibayangkan bagaimana indahnya pemandangan saat itu. Semakin malam, angin malam semakin kencang, saya memutuskan menggunakan jaket.

Kepulangan 

Setelah sampai di pelabuhan kami langsung menuju Medan dan menjama' shalat Magrib pada jam Isya. Saya langsung memejamkan mata untuk tidur, agar tidak kekurangan jam tidur untuk esok hari, karena harus langsung bekerja. 

kurang lebih pukul 00.00 WIB kami sampai di Medan, Tina yang memutuskan untuk tidur di rumah saya menunggu jemputan ayah saya didepan Sekolah Budi Satrya. Kami tarik tiga (kata orang Medan), sesampai di rumah, kami berganti pakaian, Tina menunaikan 2 sholat dan tidak lupa saya membaluri seluruh tubuh dengan hot and cream untuk mengurangi lelah pada badan dan kaki.

Perjalanan 2 hari 1 malam itu awalnya baik-baik saja, sampai pada hari kedua setelah kepulangan, leher saya sakit, masuk angin terasa tidak biasa dan akhirnya harus berobat dan beristirahat di rumah. Nyatanya angin laut sangat kejam, karena sebelumnya saya tidak pernah merasakan masuk angin yang berpindah-pindah tempat separah itu, sejak terakhir kali saya masuk angin waktu awal kuliah dan harus dilarikan ke klinik dan disuntik jam 5 Subuh.

Tetapi, walaupun eksplorasi meninggalkan bekas sakit, saya tidak jera untuk melihat jauh lebih banyak dan jauh lebih indah ciptaan Allah. Intinya, saya sangat bahagia bisa melihat Pulau Pandang, walaupun memang kami tidak dilengkapi dengan perlengkapan snorkling, tapi Pulau Pandang yang dekat daripada Sabang dan biayanya lebih murah, bisa membayar rasa rindu saya pada laut biru di Sabang, sejak terakhir tahun 2018 saya menyambanginya. 

Total biaya: Rp 273.000. (Rp 260.000: dibayarkan kepada travel untuk biaya perjalanan +Rp 10.000 biaya perjalanan pihak travel kurang, +Rp 3.000 beli mie gomak).

Nantikan tulisan perjalanan seru lainnya pada blog ini. Selamat menikmati perjalanan lewat tulisan virtual. Cheers!




  • 1 Comments



Gunung adalah bagian dari permukaan bumi yang menjulang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Gunung sekarang menjadi tempat favorit anak muda untuk melihat pemandangan alam dari atas puncak, mulai dari pemuda pecinta alam, orang awam, sampai jamet sekalipun ada di gunung. 

Pendakian pertama saya kali ini jatuh kepada Gunung Sibayak, berkat ajakan adik saya dan memang keinginan saya, akhirnya mendaki gunung jadi juga. Sedikit informasi, Gunung Sibayak ini memiliki ketinggian 2.172 meter dari permukaan laut, berlokasi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Orang suku Karo menyebut Gunung Sibayak dengan sebutan "Gunung Raja". Gunung Sibayak merupakan gunung berapi dan meletus terakhir tahun 1881. Gunung ini berada di sekitar 50 kilometer barat daya Kota Medan. 

Gunung ini termasuk kedalam jenis gunung stratovolcano atau gunung berapi kerucut, yang dikenal sebagai gunung berapi komposit atau stratovulkan, ialah pegunungan yang tinggi dan mengerucut yang terdiri atas lava dan abu vulkanik yang mengeras.

Berdasarkan tahun terakhir meletusnya gunung ini, Sibayak sudah lama sekali tidak meletus, tapi dari kawah yang saya lihat di atas, gunung ini terlihat masih aktif, saya pribadi beranggapan kelak gunung ini akan meletus, karena bunyi suara dari dalam kawah aktif itu cukup menyeramkan dan mengeluarkan asap dengan bau pekat.

Persiapan Pra Pendakian

Persiapan pra pendakian saya sederhana. Saya berolahraga selama 2 minggu dan benar-benar melakukannya setiap hari pada 1 Minggu terakhir dengan mengikuti video di youtube “Full Body Workout” yang menitikberatkan pelatihan pada seluruh tubuh apalagi kekuatan kaki, karena medan yang dihadapi menanjak.

Tidak lupa perlengkapan camping yang sebenarnya dipersiapkan oleh adik saya. Ada carier yang berisi tenda kamping 1 buah, matras 2 buah, hammock 1 buah, trekking pole 1 buah, alat masak 1 set, selimut, jaket. Bahan pangan: Nasi dan rendang (makan malam), beras, Indomie, snack. Tipsnya saat di gunung adalah bawa bahan makanan lebih banyak dari porsi makan normal kamu.

Kami tidak membawa alat makan, seperti piring plastik, sendok, cangkir. Karena mis komunikasi, adik saya berpikir saya yang membawanya dan saya berpikir adik saya yang membawanya. Akhirnya kami menggunakan tempat alat masak sebagai tempat makan. Jangan lupa juga membawa kopi/teh, gula, karena harga di Gunung Sibayak untuk 1 buah teh celup adalah Rp 1000, kalau di Medan sudah bisa dapat 1 bungkus.

Kami melaju dari Medan menuju Gunung Sibayak pukul 20.30 WIB dan harus singgah sebentar ke sekolah SMA saya karena gendongan bayi teman saya ketinggalan dan posisi dia sudah sampai Sibayak dan keesokan harinya akan melakukan pendakian keatas. Jika tidak ada gendongan tersebut maka pendakian mereka terhenti hanya sampai ditempat para pendaki mendirikan tenda, dengan struktur tanah yang datar juga luas.

Kami juga singgah ke Sibolangit untuk membeli gas demi keperluan memasak dan ke masjid untuk mengambil 5 liter air.

Jalanan menuju pos pendaftaran dari arah Gundaling, Berastagi cukup gelap apalagi sisi-sisinya adalah hutan. Saya yang dibonceng sebenarnya sedikit takut, apalagi carrier yang ditopang cukup berat, tapi tidak seberat tiba-tiba bertemu mantan, haha….

Dari titik Gundaling menuju pos pendaftaran menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit, total waktu yang kami habiskan dari Medan-Hutan Pinus Sibayak (Tempat membangun tenda) kurang lebih 3 jam 30 menit.

Pendakian

Sampai pos pendaftaran kami memarkirkan kereta dan melakukan pendaftaran dengan menuliskan nama-nama yang akan melakukan pendakian, Rizky, Wawan, Abas. Biaya pendaftaran Rp 10.000, parkirnya Rp15.000. Entah kenapa parker jauh lebih mahal daripada biaya pendaftaran. Saat melakukan pendakian, carrier yang saya topang sepanjang jalan saya berikan ke adik dan saya hanya membawa tas merah yang beratnya mungkin hanya 1 gram dan diisi dengan snack ringan saja. Saya meyakinkan diri, Bismillah.

15 menit berjalan ternyata membuat napas saya tersengal, “Ayo ky, kamu bisa”. 20 menit berjalan saya merasa leher saya terjekik, karena dingin dan haus tapi saya takut untuk minum dan berhenti. Takut semangat saya luntur dan tidak bisa menelan air minum saya sendiri, haha. Akhirnya ditengah perjalanan saya berhenti dan saya minum sedikit. Saya menghela napas yang rasanya kalah karena dingin yang sangat mencekik, sungguh mencekik saya tidak bohong. Adik saya bilang, “Kak, lihat keatas deh”, saya yang awalnya bodoh amat, “Ngapain sih nyuruh lihat ke atas”. Tidak tahunya bintang malam yang bertabur sudah seperti beras didalam nampan, banyak sekali. “Kawaiiiii”. Bagus sekali Ya Allah, biasanya orang-orang menyebut istilah ini dengan “Milky Way”.

“Welcome to Sibayak, tapi jangan senang dulu, ini bukan puncaknya”, gumam adik saya. Saya melihat lampu yang bersinar, warung yang luas, 4 kamar mandi dan tenda yang banyak sekali. Mendirikan tenda dibawah pohon pinus, makan ditengah remangnya lampu, sesekali terdengar iringan gitar dari anak-anak camping lainnya, jam 2 malam kami putuskan tidur. Saya dan adik saya didalam tenda, abas tidur di hammock. Saya yang sedang tidak sholat terbangun pukul 06.00 WIB. Saya ingat malam itu, saya tarik-tarikan selimut dengan Wawan, karena dinginnya minta ampun. Saat akan summit attack, panggilan alam terjadi. Tidak tahunya tidak hanya saya yang dapat panggilan tersebut, tetapi banyak orang yang mengantri. Satu orang dapat jatah 2 ember timba air, maklum di gunung. Walaupun lama menunggu, untungnya kamar mandi dijaga oleh mas-mas ganteng berambut gondrong, hati saya meleleh, “Wah pagi yang indah”. Ingat ya kawan, kamar mandi tidak ada WC, jadi buat kamu yang rutin buang hajat setiap pagi, harus atur strategi menahannya sampai bertemu WC.

Dari pohon pinus, menuju puncak menghabiskan waktu 45 menit, kami mengadakan upacara bendera, karena saat itu tepat 17 Agustus 2020. Untung saja kami mendaki pukul 06.30 wib, karena kalau pergi waktu Subuh matahari terbit tertutup kabut, percuma tidak terlihat, karena waktu itu gunung tetangga yakni Sinabung sedang erupsi.

Kawah yang bau membuat kepala pusing, suara dari dalam kawah membuat ribut dan jujur saya jadi takut. Karena di otak saya, kalau tiba-tiba gunungnya aktif kembali bagaimana ya. Kami menikmati cemilan dan air, mengambil foto serta video, seru juga disini. Beberapa orang datang dengan pakaian lengkap, sisanya ada yang memakai sandal jepit, celana jeans, aneh juga.



Pukul 09.00 kamu putuskan untuk turun ternyata turun jauh lebih mudah disbanding naik. Saat sampai di tenda kami memasak sarapan pagi. Sarapan pagi diisi dengan Mie Sedap Kari Spesial dan rendang, sisa makan malam.

Pukul 11.00 WIB kami membereskan barang-barang dan tenda, ikut turun bersama rombongan anak-anak pramuka MAN 1 Medan, teman saya yang gedongannya ketinggalan tadi. Iya, tenda kami bersebelahan, padahal saat mencari tempat untuk mendirikan tenda situasai gelap, tapi ya memang jodoh kami justru bersebelahan.


Kondisi sepatu saya yang karet membuat turunnya pendakian jadi sulit, saya menahan kaki saya yang terlalu kedepan. Kaki jadi pegal.

Awalnya kami yang memutuskan untuk singgah ke tempat wisata lainnya, memutuskan langsung pulang ke Medan. Di tengah jalan menuju Gundaling, banyak anak-anak sekitaran umur 15-17 tahun berjalan kaki sampai simpang Gundaling. Tak jarang mereka meminta sisa persediaan air minum kami. Sayangnya, persediaan air minum kami kosong. Abas yang naik sepeda motor sendiri juga menumpangkan seorang gadis yang kata temannya sudah tidak sanggup berjalan. Kalau saya jalan kaki sejauh itu sepertinya juga tidak sanggup, apalagi kalau harus menggendong carrier. Anak-anak yang berjalan ternyata tidak hanya sampai simpang gundaling saja, tapi ada yang berjalan sampai penatapan. Makanya adik-adik, kalau mau ke gunung harus bawa ongkos pulang, kita kan sudah lelah naik dan turun gunung, masa pulang harus jalan kaki ke Medan, kan lelah.

Alhamdulillah, kami sampai Medan dengan selamat, disambut para tetangga yang sedang melakukan perlombaan 17 Agustus. Kalau ada kesempatan lagi saya akan mendaki dan camping lagi di Sibayak dan di tempat lain. Tujuan saya selanjutnya adalah Pegunungan Gajah Bobok.

Terima kasih telah membaca cerita perjalanan saya, jangan lupa untuk follow akun instagram saya @rizkychairanii dan nantikan perjalanan saya selanjutnya ditempat keren di Medan lainnya dengan Medan yang lebih seru dan menegangkan. 

Kalau kamu, sudah pernah mendaki kemana saja?.



  • 5 Comments
Picture by Google

Pernahkah kamu berpikir untuk memiliki teman dari luar negeri, padahal belum pernah sama sekali keluar negeri?. Saya pernah sesekali berpikir seperti ini, tujuannya cukup sederhana. Pertama, ingin berbicara bahasa Inggris, sehingga menjadi terbiasa dan kedua ingin mempelajari budaya negara lain, sehingga menambah wawasan, kemudian mendapatkan jodoh bule, haha klise sekali.

Sebagai generasi millennial yang tidak bisa hidup tanpa smartphone, mengutajk-atik smartphone merk China kesayangan saya merupakan salah satu hobi yang tidak bisa saya hindari setiap harinya. Mulai dari keluar masuk media sosial, hingga bela-belain nonton drama dengan jumlah byte yang bisa menghabiskan lebih dari 100 megabyte, akhirnya membuat saya bosan dan merasa hidup terlalu monoton.

Awal mulanya begini, teman kantor yang saya akrab sapa “Kakak” membicarakan perkenalannya dengan salah satu bule, dari Inggris kalau saya tidak salah, melalui salah satu datting app, yang nantinya akan saya ceritakan juga bagaimana pengalaman saya mengobrak-abrik aplikasi tersebut. Dia bercerita dengan serunya bagaimana sikap dan keseharian teman bulenya itu.

Cerita tersebut sangat menarik untuk saya dengarkan. Bermodal kuota dan smartphone,  saya mencoba mengulik lebih lanjut aplikasi yang bisa digunakan untuk bisa berkomunikasi dengan orang asing. Saya tidak langsung mengunduh aplikasi yang rekan kantor saya unduh, tapi saya baca dahulu lamat-lamat satu per satu di laman Google, hingga akhirnya mengunduh 3 aplikasi sekaligus, haha (maruk).

Ketiga aplikasi itu adalah Tandem, Meet4U dan yang cukup mengesankan adalah Ablo. Ablo (Australian Botanical Liaison Officer) adalah layanan jejaring sosial untuk komunikasi instan yang dimiliki oleh Massive Media. Massive Media adalah perusahaan yang berbasis di Belgia yang didirikan pada 2011 diakuisisi oleh Meetic, anak perusahaan Match Group pada 2012. Ablo sendiri didirikan pada bulan Januari 2019, masih terhitung baru.

Ablo bertujuan untuk mewujudkan keinginan orang-orang seperti saya yang ingin memiliki teman dari benua lain, dengan pebedaan budaya dan bahasa. September 2020 saya mengunduh dan memutuskan untuk menggunakan aplikasi ini, jadi totalnya sudah berjalan 4 bulan dan perjalanan saya sudah lebih dari 20 kilometer dengan pesawat Ablo.

Cara mengunduh

Pertama kamu dapat menemukan aplikasi ini di iOS dan Android kamu, unduh dan pastikan kamu memiliki kuota yang cukup atau WiFi yang sudah dibayarkan setiap bulannya. Setelah itu masuk ada aplikas, disana akan tertera.

Mendaftar

Sama seperti aplikasi lain pada umumnya, kamu akan diminta mendaftarkan nama, email, password untuk pertama kalinya, jika sudah punya akun bisa langsung menekan tombol sign in dan mulai mengendarai pesawat Ablo. Saya memilih mendaftar dengan email yang telah saya buat di google, maklum saya merasa lebih aman dan tidak perlu mengingat  terlalu banyak email dan password apa yang sudah saya pakai, saran saya mendaftarkan diri dengan email yang kamu punya lebih praktis dan mudah. 

Setelah mendafar, otomatis kamu akan mendapatkan pemberitahuan yang dikirimkan lewat pesan elektronik untuk mengonfirmasi akun dan selesai. Ablo mu sudah bisa digunakan. Jika ingin lebih dikenal dunia, kamu bisa mengganti foto profilmu dan mengisi bio, seperti apa tujuanmu berada di Ablo atau sekedar kalimat sapaan. Dalam profil setiap orang akan ditemui juga gambar bendera asal dan nama panggilan.

Konsep Aplikasi Ablo

Ablo mengambil konsep "pesawat". Ablo sebagai awak kabin dan kita sebagai penumpang yang bebas terbang kemana pun, asalkan selalu mematuhi peraturan, jika tidak awak kabin tidak akan segan-segan melemparkan kita dari pesawat jika melakukan kesalahan. Kemudian ada 2 jenis komunikasi yang bisa dilakukan, pertama adalah chat atau obrolan biasa, yang kedua adalah video, melalui permainan Super6 (Permainan mencocokkan kesamaan antar pemain, ada 6 pertanyaan dan masing-masing pertanyaan tersedia 2 pilihan jawaban, setelah selesai memainkannya bersama, akan muncul skor persentase berapa persen kita memiliki kesamaan), hanya permainan sederhana, tapi cukup membuka ruang pembicaraan setelahnya.

Bagaimana Berkomunikasi dengan Orang Lain

Dalam layanan aplikasi Ablo jangan takut untuk berkomunikasi, karena Ablo sudah memenuhi 39 bahasa, maksudnya adalah kamu bisa menggunakan bahasamu sendiri dan lawan bicaramu bisa menggunakan bahasanya. Bahasa yang digunakan lawan bicara akan otomatis diterjemahkan. Dalam percakapan obrolan kamu juga bisa menambahkan emoticon, saling bertukar foto, menanyakan budaya dan keseharian masing-masing. Tetap menjaga nilai kesopanan dalam berkomunikasi, karena untuk awal mulanya kita tidak pernah tahu bagaimana budaya orang lain.

Apa yang Tidak Boleh Dilakukan di Ablo

Ada beberapa persyaratan yang harus di patuhi selama melakukan penerbangan Ablo. Jangan menggoda tanpa persetujuan, banyak sekali pria yang saya temukan suuka menggoda apalagi dari India haha. Jangan memaksa orang lain untuk mengirimkan foto atau detil kontak, pengalaman saya banyak yang justru minta nomor WhatsApp dengan dalih berteman, ujung-ujungnya kalau tidak merayu, melakukan pelanggaran seksual dan melakukan penipuan. Jangan melakukan tindakan kasar/seksual, mengintimidasi atau bersikap rasis, jangan mengirimkan spam.

Pengalaman yang Mengesankan 

Banyak pengalaman mengesankan yang saya alami, walaupun awal penggunaan Ablo terasa sangat noob hahaha, tapi lama-kelamaan terasa pro. Saya lebih sering menggunakan permainan Super6, walaupun awalnya takut karena langsung berhadapan wajah ke wajah, tidak tahunya jadi kecanduan.

Pengalaman mengesankan yang saya alami terjadi dengan seorang Pria asal Tiongkok, China. Tinggal di kota padat dengan gedung-gedung bertingkat di Kota Chengdu. Pria itu bernama Fan Yaosheng, nama Inggrisnya adalah Vanna. Dia berumur 26 tahun.

Seperti biasa saya melakukan permainan di Ablo, setelah selesai menjawab 6 pertanyaan yang saat itu saya lupa kami memilih bagian apa. Dia tetap meminta berkomunikasi dengan bahasa China. Saya mencoba meminta dia berbahasa Inggris. Sialnya terjemahan yang biasanya otomatis menerjemahkan dengan baik, menjadi tidak bekerja, mungkin karena dia bingung harus mengartikan dalam bahasa apa, karena saya menggunakan 2 bahasa, Inggris-Indonesia. 

Kami berkomunikasi cukup lama, uniknya dua orang dengan perbedaan bahasa yang signifikan berkomunikasi lebih dari 1 jam. Tahu bagaimana kami berkomunikasi?, dia berbicara dalam Bahasa China di Tabnya, kemudian otomatis penerjemah mirip google buatan China ini menerjemahkannya dalam Bahasa Inggris. Pada saat itu saya bilang, tolong artikan saja dalam Bahasa Indonesia, agar lebih mudah. Ternyata dia tidak memahami kata-kata saya, rupanya dalam komunikasi yang berakhir dalam aplikasi WeChat, dia berpikir bahasa saya sehari-hari adalah bahasa Inggris. Inggris opo to Le?.

Setelah mengetahui nama dia dalam bahasa China, lucunya dia menanyakan nama saya dipanggil apa dalam Bahasa Inggris. Kami di Indonesia tidak punya panggilan khusus atau merubah nama untuk terlihat seperti bule. Kami tetap menggunakan nama asli saja.

Vanna sangat mengesankan karena sejak sebulan lalu pertemuan kami dia masih memberi kabar dan bertukar gambar lewat sosial media, tentang aktivitasnya saat berkendara, saat bekerja dan makan. Dia juga berjanji akan mengirimkan foto saat salju dan pernikahannya. Dia adalah pribadi yang baik, supel dan interaktif.

Dia dan keluarganya tinggal di daerah yang jauh, butuh waktu 2 jam untuk ke kampung halamannya yang indah. Teknisi gedung-gedung mewah ini memiliki seorang tunangan yang cantik, berprofesi sebagai dokter anak. Walaupun perbedaan usia dia dan tunangannya 3 tahun lebih tua, sepertinya bukan sebuah masalah yang berarti. Apalagi melihat video dia melamar, whoaaa bulir-bulir cintanya terlalu terpampang nyata, terbalut kesederhanaan dalam balon, lilin dan bunga mawar, tapi cinta mereka rasanya tidak sesederhana itu.

Perjalanan dia menyusuri sudut kota di China tidak lebih sering dibandingkan dengan foto makanan-makanan yang hampir setiap hari dia kirimkan. Entahlah, aku merasa 3 kali sehari dia selalu makan di luar dan separuh hidupnya adalah tempat makan.

Uniknya lagi Vanna merupakan content creator, karena di China tidak bisa dengan mudah menggunakan Google, jadi dia tidak mengunggah videonya tentang ketertarikannya dengan cerutu di Youtube. Dia menguploadnya pada platform bilibili milik negaranya. Dia meminta saya untuk menonton, sebagai temannya yang penuh dengan rasa penasaran, saya membuka link videonya. Sedih sekali melihat salah satu dari banyak video yang di upload, karena saya bahkan tidak mengerti dia membicarakan apa haha. Tapi dari pengamatan saya, dia sedang menjelaskan tentang cerutu keluaran terbaru.

Banyaknya hal random yang kami saling bagikan, mulai dari music rapp dan rasa sukanya pada Rich Brian sama seperti saya, pecinta olahraga, dia juga tahu banyak tentang Islam, kejadian G30SPKI, pria yang sangat suka makan mie ini berkata, “Jika dia ke Indonesia dan mengunjungi saya, dia akan ikut memakan apa yang saya makan”. Maksudnya dia tidak akan makan babi, layaknya ayam yang sering kita makan, mungkin seperti itu pula babi baginya.

Begitu banyak orang yang saya temui di Ablo salah satu yang jujur dan memiliki niat baik untuk berteman dan belajar adalah Vanna. Tujuan dia ingin melatih bahasa Inggrisnya. Kalau saya ingin menambah pengetahuan mengenai China. Saya tidak tahu sampai kapan pertemanan kami terus terjalin, walaunpun kelak harus kehilangan kontak karena satu dan lain hal, saya bersyukur pernah mengenal pria seperti Vanna. Mendobrak asumsi saya mengenai orang China yang tertutup. Terakhir ada kopi dari Vanna untuk menyegarkan pikiran kamu setelah membaca tulisannya ini haha:).


Semoga teman-teman semua terhibur atau ingin mencoba pengalaman menggunakan aplikasi ini bisa langsung mendownloadnya.


  • 0 Comments


Ilmu komunikasi? Apa yang terpikir oleh kalian saat mendengar ilmu komunikasi?
Jurnalistik? Humas? Jadi wartawan atau malah orang-orang yang ahli dalam perangkat keras dan lunak dalam komputer?. Wah ini mah salah besar.
Jadi yang namanya ilmu komunikasi yang nggak akan lepas dari ilmu becakap-cakap. Siapa coba yang nggak mau becakap tapi dibayar mahal hanya dalam satu atau dua jam?. Tapi nggak semudah cakap-cakap sampah yang wak, kalo kata orang medan.  Biar ngomong banyak harus bermanfaat, ngomong sedikit bisa mengunggah.

Masuk ke permasalahan aku pribadi (tulisan pertama didahului dengan masalah ya). Kuliah di komunikasi bukan perkara mudah. Entah dapat ilham atau wahyu dari mana akhirnya aku milih komunikasi untuk jadi pelabuhan terakhir dalam dunia S1 yang sekarang sudah memasuki semester tujuh. Mulai dari lingkungan kampus, teman sejawat dan berakhir pada kesendirian yang nyata.

Bolehlah cerita sedikit kenapa kuliah di USU dan komunikasi cukup jadi problematika dalam hidup aku pribadi.

Lingkungan

Mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, enggak pernah sekolah di sekolah umum yang isinya anak-anak yang berbeda agama. Karena dari awal selalu duduk dibangku Madrasah, dimana anak-anaknya baik budi (wkwk) dan selalu dicekoki dengan pelajaran agama yang mumpuni dari guru-guru yang luar biasa jasanya. Akhirnya masuklah ke USU, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ilmu Komunikasi 2014, yang isinya mulai dari yang taat, bandal hingga bertobat. Tapi banyak juga yang bringas, nakal dan tak beragama. 
Syok? Alhamdulillah iya.
Tapi untungnya enggak lama.

Teman Sejawat 

Belum lagi teman-teman sejawat seangkatan, sejurusan, sekelas sampai akhirnya jatuh pada geng-geng yang merasa dirinya “junjungan” kalau istilah keren anak jaman now.

Mulai dari anak-anak yang kaya rayahhh, sampai kepada anak yang kuliahnya ngandelin beasiswa dan makan sekali dalam sehari. Pulang kampus bukan pulang tapi nongkrong cantik dulu bos.

Mulai dari cewek-ceweknya yang tertutup dari ujung rambut sampai ujung kaki dan menemukan cewek-cewek yang rambutnya harus di keritingin dulu ujungnya kalau mau pergi ke kampus, belum lagi bibir merah meronah, hingga lensa mata yang menambah indah suasana sudut kota.

Naik turun mobil, nggak boleh capek apalagi sampai berkeringat. Pegangannya dari smartphone canggih yang lambangnya apple, sampai pada mahasiswa yang alhamdulillah hapenya bisa buat chat via Line, WA dan BBM. Alhamdulillah nggak susah-susah amat.

Semester demi semester dilalui dengan cukup baik, mulai dari ujian yang berusaha buat enggak nyontek, kecuali ada dua gendangnya yang buat aku jadi “nanya” sama teman kalau udah ujian. Satu, dosennya kalau ngajar enggak jelas. Kedua, materi yang disampaikan lebih enggak jelas dari dosen yang ngajar. Dapat kawan yang alhamdulillah soleha sampai yang bejat juga ada.

Mulai dari yang nasehatin yang baik-baik, sampai yang ngatain “jomblo ngenes” dan nyuruh buat berubah jadi lebih feminim, padahal nyatanya dia pun jomblo. Kalaupun dia punya pacar predikat yang disandang akan tetap jomblo. Karena pada dasarnya pengertian dari jomblo itu sendiri adalah “orang yang belum berstatus menikah” titik

Belum lagi ada temen yang ngatain, "aku kebanyakan mimpi tanpa aksi" (sumpah ini sakitnya ngebekas sampai hari ini) bener-bener dah lu yeee, tapi banyak juga yang nyemangatin dan malah senasib seperjuangan.

Pada mulanya kita yang berjumlah kurang lebih 200 orang ini sama-sama menyandang status sebagai anak komunikasi, hingga negara api menyerang semester lima kita sibuk milih konsentrasi apa yang bakal kita pilih dan semester penentuan yakni enam kita milih konsentrasi apa yang bakal kita tuju dan itu terbagi atas, Jurnalistik, Public Relation dan Advertising.

Bingung dan galau dialami banyak orang, nggak cuma satu, dua orang hingga kegalauan ini pun kena ke diri aku pribadi. Mencoba buat mikir dan sholat di ujung-ujung waktu penentuan akhirnya seorang Rizky Chairani memilih Public Relation alias PR alias HUMAS.

Hari demi hari dilalui, bukan perkara yang mudah. Mulai dari baju pas datang ke kampus kering, sampai basah, hingga akhirnya kering lagi. Mulai dari uang beasiswa banyak sampai ludes dan akhirnya aku mutusin buat kerja dan sekarang malah buat aku menilai dunia PR bukan dunia kacang-kacang, apalagi anggap dia hanya remahan rempenyek, apalagi bubuk nutri sari.

Misi awal milih PR sebenarnya simpel, “CUMA PENASARAN’’ sama dunia ini. Akhirnya rasa penasaran tadi dijawab dengan sempurna. Lelahnya bukan main, pengorbanannya bukan main, sampai pertumpahan ludah sama teman-teman sekelompok bukan main lagi basahnya.

Garis besarnya, banyak hal yang kita kerjakan, dimulai dari Praktek Komunikasi atau anak komunikasi biasa nyebutnya “ADVEL”, masuk lagi ke publisitas dimana kita harus punya satu klien dan nge-Up dia di semua media-media yang ada di Sumatera Utara sampai ke Nasional sekali pun. Bukan satu, dua kelompok yang ada dikelas, ada sekitar 16 kelompok yang memperebutnya kursi “kelompok terbaik”, hingga akhirnya bukan kelompok aku yang menang. Belum lagi kampanye-kampanyean di mata kuliah teknik-teknik humas yang buat kantong terkuras habis didalamnya (publisitas sama tekhum sama pengeluarannya), bukan cuma satu project, tiap minggu presentasi dan akhirnya buat Press Conference ala-ala yang juga nggak sedikit uangnya. Bukan hanya sebatas uang atau waktu yang memang kita curahkan. Perdebatan sama keluarnya kata-kata kasar sampai isi kebun binatang yang enggak layak tayang pun keluar semena-mena. Yang satu ngatain yang satu, yang satu lagi nyesal udah sekelompok, belum lagi yang satu enggak suka sama teman yang satu. Tapi sampai enggak kawanan atau cakapan lagi alhamdulillah enggak. 

Hectic banget ky? Lumayan. Tapi enggak terasa kalau dijalani dengan ikhlas. Ini terasa saat kita ngeluh dan cerita. Kayak aku gini, terasanya baru sekarang dan jadi pembelajaran kalau masa-masa sulit kayak gitu bisa aku lewati dengan langkah yang memang enggak mudah, karena aku bersama-sama dengan orang-orang yang cukup cinta dengan dunia komunikasi, walaupun hal yang paling sangat disayangkan adalah "GAP" diantara anak-anak komunikasi.

Banyak tembok penghalang saat kita yang tidak terlalu suka berkelompok masuk ke kelompok lain. Serasa ada didunia lain, dunia dimana kamu enggak akan pernah ngerti mereka bahas apa, ketawain apa dan sebahagia apa nyeritain suatu objek mati atau hidup. Enggak akan ada rasa nyaman saat berada diantara mereka. Kita diajak ngobrol saat pembahasan mereka sudah habis, mereka mulai lelah dan kita sebagai kerupuk, kayak pelengkap aja diantara geng hits nan elit. Sungguh miris fakta berikut saudara.

Saat kita yang seharusnya saling rangkul, malah acuh saat bertemu karena kita bukan bagian dari kelompok mereka, karena kulit kita enggak putih, uang kita enggak banyak, mobil pun tak punya dan makan siang hanya sanggup di zam-zam.

Mulai ngerembet kemana-mana pembahasan

Inti dari tulisan ini adalah passion adalah hal yang sanggggaaat berarti dalam hidup kita. Pahami diri kita dengan mencoba menelaah, aku sukanya apa ya?. Saat ngerjakan hal ini aku merasa bahagia enggak ya?. Memang benar kata Ridwan Kamil, “Hal yang paling menyenangkan adalah saat pekerjaan kita adalah hobi yang dibayar".

Jujur aku masuk PR bukan karena gengsi yang entah darimana strata ini dibangun. Tapi karena aku buta sama dunia PR dan saat aku masuk, jujur sekali lagi “kurang nyaman” dan jarang hati merasa lega dan bahagia. Tapi disamping masalah dan balada didunia PR banyak hikmah yang aku ambil dari pilihan yang sebenarnya enggak salah, tapi mungkin cara menjalankan dan rasa keikhlasannya kurang. PR mengajarkan aku pentingnya menghargai yang namanya waktu, mengajarkan aku kerja keras dan ikhlas. Mengajarkan aku selalu baik dan berkata jujur dengan siapapun. Jangan jadi orang yang bermuka dua. Kurang setuju sama pernyataan, “PR harus bermuka dua”. Untuk apa? Satunya lagi mau diletakin dimana bro?.

Saat diri kita baik, yakinlah hal baik akan melangkahkan kita kearah yang benar-benar baik. Saat kita baik orang kasar sama kita?. SABAR. Udah sabar masih aja di maki-maki? SABAR lagi. Tau nggak?, ternyata SABAR adalah hadiah terbesar yang Allah berikan untuk kita dan tidak semua orang bisa memilikinya. Ujiannya setiap hari, enggak kenal waktu.

Disamping itu, PR juga membuat aku banyak bertemu orang, belajar lebih banyak tentang media. Banyak keajaiban dilapangan hingga mempertemukan kita sama orang-orang yang mau membantu dengan tulus.

PR bukan tentang kita yang memakai heels tinggi membuat badan tinggi sesampai. Menyandang status menjadi PR harus membuat pemikiran kita yang tinggi, wawasan, kemampuan lobbing yang baik dan kerja keras yang tetap terjaga.

Salam dari saya seorang Public Relation rasa Jurnal

  • 0 Comments
Postingan Lebih Baru Beranda

Searching

Follow Me ❤

  • Instagram
  • LinkedIn
  • Twitter

Total Tayangan Halaman

recent posts

Labels

Ablo Asus Blog Writing Competition food waste gaya hidup minim sampah makanan Pengalaman pernikahan Review sampah makanan Sibayak Travelling

Arsip Blog

  • ▼  2021 (7)
    • ▼  Agustus 2021 (1)
      • [REVIEW] Iseng Coba Skincare Perusahaan, Hasilnya ...
    • ►  April 2021 (2)
    • ►  Maret 2021 (1)
    • ►  Februari 2021 (2)
    • ►  Januari 2021 (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Agustus 2017 (1)

POPULAR POSTS

  • Pernikahanmu Bukan Sumber Sampah Baru: Yuk Ubah Gaya Hidupmu!
    Create by canva.com Pernikahan merupakan acara sakral bagi setiap orang. Banyak dari para pengantin mempersiapkan hal-hal yang terbaik untuk...
  • Laptop Asus Zenbook Flip S (UX371) Wujudkan Resolusi jadi Kreator Handal
    Picture by www.asus.com Jalan-jalan ke Tobasa Singgah sebentar ke jalan seroja Eh kawan tidak terasa Sekarang sudah bulan Maret saja Waktu b...
  • Danau Lau Kawar: Ranu Kumbolonya Sumatera Utara
    Memasuki awal April yang indah, dengan cuaca yang sudah jarang sekali hujan. Saya mengisinya dengan pergi berkemah ke Tanah Karo, setelah te...
  • Tercekik Dingin di Gunung Sibayak Sumatera Utara
    Gunung adalah  bagian dari permukaan bumi yang menjulang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Gunung sekarang menjadi tempat ...
  • [REVIEW] Iseng Coba Skincare Perusahaan, Hasilnya Begini!
    Lompat pagar tersangkut kawat Beli apel dicampur cuka Muka jelek berjerawat Mana ada orang yang suka Wajah merupakan anggota tubuh dengan ...

instagram

Template Created By : ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top